Rabu, 04 Februari 2009

SONETA II

Membaca puisi bisa diibaratkan seperti mengkonsumsi suplemen bagi tubuh. Sepertinya tidak ada orang yang tidak suka dengan puisi, hanya saja mungkin tingkatnya berbeda bagi setiap orang. Seperti kesukaan akan es krim, tentu tingkat kesukaannya pun berbeda.

Cobalah membaca puisi pasti ada sesuatu yang terasa dalam hati kita. Asal kita membacanya tanpa pretensi tanpa prasangka hanya hati yang bersih.

Puisi dibawah ini adalah karya Pablo Neruda, seorang politis Spanyol..



SONETA II

(Pablo Neruda)


Kasihku, berapa banyak jalan harus kutempuh untuk mendapatkan ciuman,
berapa kali aku tersesat kesepian sebelum menemukanmu!
Kereta kini melaju menembus hujan tanpa diriku.
Di Taltal musim semi belum kunjung tiba.

Tapi aku dan engkau, kasihku, kita bersama-sama,
bersama dari pakaian hingga tulang,
bersama di musim gugur, di air kita, di pinggul,
hingga akhirnya hanya engkau, hanya daku, kita berdua.

Bayangkan betapa semua bebatuan itu diangkut sungai,
mengalir dari mulut sungai Boroa;
bayangkan, betapa bebatuan itu dipisahkan oleh kereta dan bangsa

Kita harus saling mencinta,
sementara yang lainnya semua kacau, laki-laki maupun perempuan,
dan bumi yang menghidupkan bunya anyelir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar