Tentulah kita (sebagian besar) orang Indonesia mengenal Nangka, atau : Artocarpus heterophyllus, pada saat masih mengkal warna buahnya hijau dan bergetah banyak. Khususnya di beberapa daerah di Indonesia buah ini sering diolah menjadi sayur yang lezat dan banyak yang menyukai sayur jenis ini. Namanya sayur gori.
Setelah matang buah ini mengeluarkan aroma yang khas lebih lembut dari aroma durian atau aroma cempedak. Buahnya manis dengan warna kekuningan teksturnya agak kenyal, tapi enak, segar.

Dari sini cerita kita berawal, kami satu keluarga suka buah ini, sejak kecil kami sudah mengenal nya. Sebagai orang yang tinggal di daerah pedesaan dimana biasanya pemukiman penduduk berkelompok dengan pola : semua rumah saling berhadapan sehingga ditengah perkampungan terbentuk satu halaman yang sangat luas.
Biasanya orang yang tinggal dalam pemukiman itu masih dalam satu kekerabatan. Dipinggiran kampung itu ditanami pohon beraneka ragam. Khususnya nangka karena jenis pohon ini tidak memerlukan perawatan khusus dan pohonnya yang kuat sehingga anak-anak suka bermain di cabangnya yang kadang menjurai sampai dekat tanah.
Permainannya seperti ini : beberapa anak akan naik ke dahan yang lumayan kuat menahan beban dan jika sudah yakin aman berpegangan pada cabangnya, maka cabang yang sudah ditarik akan dilepaskan oleh seseorang yang menarik dahan dekat ke tanah. Harus disentak dengan kuat dan cepat.
Efeknya kita serasa terbang dengan rasa tersentak kuat. Hampir sama dengan efek apabila kita terjatuh dari pohon, atau terjatuh dari ketinggian atau sensasi ketika kita mimpi terjatuh hanya bedanya kita terhempas ke atas dan tidak ada rasa kesakitan hanya rasa seperti terbang dan seolah-olah jantung kita terangkat dengan cepat. Sudah pasti kita akan menjerit dengan kuat. Aku masih bisa merasakan sensasinya sampai sekarang.
Nah kita kembali ke cerita tentang buahnya, pada saat musim nangka. Tidak bisa disebut bulan apa, biasanya semua pohon nangka akan berbuah secara bersamaan. Kita biasanya berkumpul diketeduhan bersama-sama menikmati buahnya yang ranum. Mungkin karena buahnya mengandung angin, kadang ada yang tidak tahan memakan terlalu banyak maka ada satu mantra yang diajarkan secara lisan turun temurun untuk menghindari sakit perutnya.
Tidak ada yang mengetahui sejak kapan mantera ini sudah manjur. Biasanya anak yang lebih besar akan mengucapkan mantera ini kepada anak-anak yang lebih kecil sambil menaruh jangat nangkanya dibelakang telinga anak yang lebih muda dan begitu seterusnya, diteruskan secara lisan.
Nah baru-baru ini Ibu saya datang dari kampung membawa buah nangka yang sangat besar, kebetulan kami juga rata-rata punya kelemahan dibagian pencernaan maka saya dengar lagi mantera itu, sambil menaroh jangatnya pada belakang telinga saya sambil berucap :
Pinasa simaulae = Nangka yang diminta
Au mangallang halakan mangae = saya makan mereka yang kesakitan.
Maksudnya secara umum.
Pinasa = nangka, Simaulae = diminta (mungkin) sebagai sampiran untuk menyamakan bait kedua?)
Au = aku, mangallang = makan, halakan = mereka, mangae = merasa kesakitan)
Tentu saja syair ini mengandung ironi dan agak terlalu egois hahaha coba anda pikirkan : anda makan nangka (kebanyakan hingga sakit perut) dan orang lain yang merasa deritanya. Entah benar atau tidak akan tetapi mantera itu sudah terhapalkan secara turun temurun, wallahu alam saya makan nangkanya lumayan banyak tidak sakit perut, dan semenjak seingat saya belum pernah merasa sakit perut karena makan nangka. Bisa juga karena memang yang saya makan masih dalam batas toleransi. Atau mungkinkah ini sugesti?
Biasanya orang yang tinggal dalam pemukiman itu masih dalam satu kekerabatan. Dipinggiran kampung itu ditanami pohon beraneka ragam. Khususnya nangka karena jenis pohon ini tidak memerlukan perawatan khusus dan pohonnya yang kuat sehingga anak-anak suka bermain di cabangnya yang kadang menjurai sampai dekat tanah.
Permainannya seperti ini : beberapa anak akan naik ke dahan yang lumayan kuat menahan beban dan jika sudah yakin aman berpegangan pada cabangnya, maka cabang yang sudah ditarik akan dilepaskan oleh seseorang yang menarik dahan dekat ke tanah. Harus disentak dengan kuat dan cepat.
Efeknya kita serasa terbang dengan rasa tersentak kuat. Hampir sama dengan efek apabila kita terjatuh dari pohon, atau terjatuh dari ketinggian atau sensasi ketika kita mimpi terjatuh hanya bedanya kita terhempas ke atas dan tidak ada rasa kesakitan hanya rasa seperti terbang dan seolah-olah jantung kita terangkat dengan cepat. Sudah pasti kita akan menjerit dengan kuat. Aku masih bisa merasakan sensasinya sampai sekarang.
Nah kita kembali ke cerita tentang buahnya, pada saat musim nangka. Tidak bisa disebut bulan apa, biasanya semua pohon nangka akan berbuah secara bersamaan. Kita biasanya berkumpul diketeduhan bersama-sama menikmati buahnya yang ranum. Mungkin karena buahnya mengandung angin, kadang ada yang tidak tahan memakan terlalu banyak maka ada satu mantra yang diajarkan secara lisan turun temurun untuk menghindari sakit perutnya.
Tidak ada yang mengetahui sejak kapan mantera ini sudah manjur. Biasanya anak yang lebih besar akan mengucapkan mantera ini kepada anak-anak yang lebih kecil sambil menaruh jangat nangkanya dibelakang telinga anak yang lebih muda dan begitu seterusnya, diteruskan secara lisan.
Nah baru-baru ini Ibu saya datang dari kampung membawa buah nangka yang sangat besar, kebetulan kami juga rata-rata punya kelemahan dibagian pencernaan maka saya dengar lagi mantera itu, sambil menaroh jangatnya pada belakang telinga saya sambil berucap :
Pinasa simaulae = Nangka yang diminta
Au mangallang halakan mangae = saya makan mereka yang kesakitan.
Maksudnya secara umum.
Pinasa = nangka, Simaulae = diminta (mungkin) sebagai sampiran untuk menyamakan bait kedua?)
Au = aku, mangallang = makan, halakan = mereka, mangae = merasa kesakitan)
Tentu saja syair ini mengandung ironi dan agak terlalu egois hahaha coba anda pikirkan : anda makan nangka (kebanyakan hingga sakit perut) dan orang lain yang merasa deritanya. Entah benar atau tidak akan tetapi mantera itu sudah terhapalkan secara turun temurun, wallahu alam saya makan nangkanya lumayan banyak tidak sakit perut, dan semenjak seingat saya belum pernah merasa sakit perut karena makan nangka. Bisa juga karena memang yang saya makan masih dalam batas toleransi. Atau mungkinkah ini sugesti?